Menyaksikan Ayahnya dibunuh oleh Negara, akan bangkit perlawanan? - Psm News West Papua Indonesia
Headlines News
Home » , » Menyaksikan Ayahnya dibunuh oleh Negara, akan bangkit perlawanan?

Menyaksikan Ayahnya dibunuh oleh Negara, akan bangkit perlawanan?

Written By Papuani on Thursday, January 3, 2019 | 10:07 AM

Gambar mungkin berisi: 6 orang
Anak-anak Nduga Pengungsian di Hutan Belantara


Penyisiran Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Ppaua Merdeka (TPN OPM) oleh Tentara Nasional Indonesia dan Polisi RepublikIndonesia ((TNI POLRI),diNduga membuat Kondisi Traumatis Anak Anak Nduga.

 Di Nduga sebaiknya dilakukan secara profesional, jika tidak akan mengorbankan anak- anak generasi penerus bangsa. Mereka terisolir dengan pelayanan pendidikan,  kesehtan oleh pemerintah dan harusnya pelayanan pemerintah kepada masyarakat di wilayah penyisiran diperlakukan secara khusus.

Selain terisolir kondisi alam dan geografis wilayah ini juga turut menyumbangkan kerumitan, pelayanan pemerintah bagi masyarakat di sana.  Bahkan wilayah ini pada waktu - waktu tertentu sering mengalami musibah alam seperti embun beku yang ancamannya adalah kelaparan, gizi buruk dan kematian.

Untuk itulah pendekatan apapun didaerah seperti ini oleh negara haruanya memperhatikan aspek - aspek diatas. Aspek lainnya yang lebih penting adalah akses anak - anak terhadap hak hak mereka. Masalah terbesar dalam perkembangan anak adalah trauma.

Trauma adalah kejadian tiba-tiba yang dapat meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa seseorang sehingga dapat merusak fisik dan psikologis seseorang. Keadaan tiba tiba itu bisa kekerasan dilingkungan keluarga,  perang dan musiba bencana lainnya.

Kemampuan tiap orang dalam menghadapi keadaan tiba tiba yang merugikan ini, berbeda beda tergantung daya tahan masing masing orang. Daya ketahanan tiap orang dipengaruhi oleh proses penanaman nilai (internalisasi) dalam tiap tugas perkembangan, banyak proses internalisasi ini terjadi pada masa anak.

Ketahanan anak dipengaruhi oleh faktor baik itu keluarga, lingkungan dan sistem perlindungan oleh negara. Ketiga sistem yang mempengaruhi sistem ketahanan, yang dapat menunjukan kemampuan adaptasi anak dalam menghadapi tantangan hidupnya.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, jika pelayanan Pemerintah berjalan baik dalam pemenuhan hak - hak anak seperti hak hidup, tumbuh kembang dan partisipasi, maka anak anak dalam kondisi pelayanan ini adalah anak anak yang rentan. Artinya anak anak seperti ini ketahanan fisik dan psikisnya pasti sangat lemah.

Uraian ini memberikan kita gambaran bahwa ketika rentannya anak - anak Nduga di wilayah penyisiran TNI POLRI terhadap kondisi tiba-tiba tersebut, anak - anak  dalam kondisi lemah. Kita telah melihat cuplikan kekerasan TNI depan anak anak, bagaimana kesaksian anak melihat ayahnya ditembak depanya seperti yang dilansir media BBC dan bunyi tembakan.

Semua kondisi ini telah menunjukan korban yang berjatuhan bukan hanya TNI POLRI dan TPM OPM tetapi juga anak - anak yang menyaksikan secara langaung telah menjadi korban. Trauma pada anak bisa menimbulkan antipati terhadap pelaku bahkan menimbulkan kebencian yang sangat dalam karena melukai anak-anak.

Pelampiasan kebencian ini tidak dilakukan secara langsung tetapi akan pada umumnya biasanya dilampiaskan pada saat ia dewasa,  walaupun biasanya kita akan menemukan gejalanya disaat ini,  dan hanya dengan assesmen pekerja sosial atau psikolog terhadap anak yang menyaksikan langsung (korban)  yang akan menunjukan kedalaman lukanya.

Kita banyak menemukan kondiai anak - anak yang menyaksikan perang di plestina misalnya,   banyak anak yang terluka para dan ada kelompok militan anak anak yang memegang senjata untuk melawan kekerasan dengan senjata.

Kondisi di Papua mungkin agak mirip tapi berbeda karena banyak peristiwa ( kejadian tiba- tiba)  yang terjadi karena arogansi, abisius TNI dalam melakukan operasi meiliter dan beberapa daerah dimasan orde baru dijadikan daerah operasi militer. Banyak anak -  anak yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu, kita tidak melihat anak - anak angkat senjata saat itu seperti di palestina, tetapi jiwa antipati terhadap negara dan  pemberontakan itu sudah ada terpelihara sejak anak- anak.

Sampai saat ini banyak anak - anak di daerah operasi militer banyak yang tidak simpati dengan pembangunan tetapi mereka lebih memilih untuk memberontak kepada Pemerintah dan banyak mereka tergabungn dalam aliran keras mengangkat senjata, ada sebagian juga yang tergabung dalam organisasi sipil seperti KNPB dan Gempar Papua dan organisasi lainnya.

Kita ketahui bahwa semakin banyak tindakan militer dari tahun ke tahun malah tidak dapat meyelesaikan masalah, bahkan gerakan pemberontakan kepada negara semakin menggemah. Ada juga anak - anak dulunya korban kekerasan militer kepada orang tua mereka saat ini, mereka telah menjadi pemimpin pejuang Papua merdeka,  misalnya saja Benny Wenda, Buktar tabuni, dan lain lain.

Tugas Pemerintah suda sangat berat karena masalah ini tidak hanya dapat diselesaikan dengan permintaan maaf di media masa semata, tetapi suda masuk pada nilai lain (ideologi) baru  yang tertanam dalam diri anak anak korban adalah auatubideologi baru.

Kita ketahui, banyak teori yang mengakui keadaan orang tua adalah perilaku pengulangan yang telah diperoleh semasa kanak kanak. Banyak tugas perkembangan anak anak yang gagal dimasa lalu akan dilakukan ulang saat dia dewasa.

Sebelum terlanjut anak itu terluka,  baiknya orang tua harusnya meminta maaf sebelum anak itu tumbuh dewasa. Jika meminta maaf jika anak itu dewasa luka itu sulit diobati.

Apa yang bisa dilakukan negara saat ini kepada anak -anak di wilayah konflik atau bekas daerah Operasi Militer (DOM) adalah menyediahkan fasiltas kesehatan, pendidikan dan Sumber daya Manusia (SDM), berbasis trauma healing. Butuh pendekatan khusus mempertimbangkan kondisi traumatis anak. Sebelum pelayanan pemerintah harus mewajibkan melakukan asessment tiap anak di daerah konflik  atau DOM wajib untuk memastikan daftar riwayat traumatis sehingga perlakuan kepada mereka lebih khusus. Untuk prosea penyembuhannya.

Saya belum melihat upaya yang mengarah kepada proteksi anak oleh negara disaat anak kebijakan negara dijalankan tanpa memperhatikan hak - hak anak yang perlu diproteksi sesuai konvensi PBB terkait hak - hak anak yang harus dilindungi negara. Jika negara tahu tetapi membiarkan kondisi ini,  maka negara telah melanggar HAM bagi anak - anak di Nduga saat ini.

Bagaimana Gereja melihat ini, kita harus menyediakan fasilitas pelayanan konseling anak di daerah DOM atau konflik. Benih yang diberikan akibat arogansi militer ini juga dapat berakibat merusak mental anak dan anak akan bertumbuh dengan menyinpan dendam dan dapat berubah kehal hal negatif misalnya kekerasan pada anak lain atau lebih dari itu dan generasi yang akan muncul dikemudian hari adalah generasi pemberontak.

Pelayanan Gereja dan pemerintah daerah suda harus melihat pembangunan saat ini dengan kacamata yang berbeda,  kita haruanya pembangunan yang melakukan pendekatan berbasis korban ( siapa orang yang kita layani ) buka berapa uang dan infrastuktur apa yang mereka butuh. Karena kondiai traumatis masyarakat Papua sudah sangat melukai tiap generasi di tanah ini.

Mari bangun bangsa yang kuat dimulai dari membangun ANAK MANUSIA yang kuat. Tuhan memberkati.



Ditulis oleh, Amoye Pekei



Share this article :

Terima kasih atas kunjungan anda, Please Comment with Facebook #By PL

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Translate

Pengunjung

Please Subscribers Channel Youtube

My Channel Youtube

Postingan Populer

 
Support : Creating Website | Pilok | Psmnews Template
Proudly powered by psmnews.org
Copyright © 2011. Psm News West Papua Indonesia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Owen Template