Solusi konflik di Papua, Pendekatan Guru atau Militer? - Psm News West Papua Indonesia
Headlines News
Home » » Solusi konflik di Papua, Pendekatan Guru atau Militer?

Solusi konflik di Papua, Pendekatan Guru atau Militer?

Written By Admin on Monday, December 24, 2018 | 1:22 AM



 Saya ingat waktu masih Sekolah di SD, usia Kecil. Waktu sekolah diantar oleh seorang kaka. Saya tidak Tahu umur berapa Saat itu, Maklum namanya juga di kampung, dan dulu belum dilengkapi dengan teknologi canggih. kami masih tidak mengerti dan minim pendidikan seperti sekarang yang serba canggih.

Saat itu, Kami punya Guru orang Toraja, Jawa dan Manado yang mengajar di Papua, satu Kaupaten baru. 

Mereka (Guru Non Papua) adalah orang yang baik dan relah bertahan disana (Pedalaman Papua). Mereka relah berjalan kaki walaupun jauh, berhari-hari tidur di jalan, hanya demi mengajar kami.

"Mereka tidak pernah pandang kami Jijik, Kotor, Bodoh, Keterbelakangan, serta membuat kami benci dan  marah serta dari sisi kekurangan orang Papua lainnya".

"Mereka guru-guru yang baik, duduk bersama, mengasihi  kami dan orang tua kami yang masih pake Koteka. Mereka duduk bersama di Honai.  Mereka tekun mengajar kami disana, saat itu,".

Sayangnya sampai kelas Dua SD. saya Keluar sekolah karena saat itu ujian dan saya tidak patuh pada Guru atau Panitia Ujian, bahwa saat Ujian rambut harus digunting, Namun saya tidak gunting maka, saya dinyatakan bersalah.

"Saya tidak gunting rambut, karena belum ada alat atau bahannya untuk pangkas rambut saat itu,"

Saya tidak Gunting sehingga guru (Guru Papua) tes saya untuk potong telinga saya pake gunting. Karena takut mulai hari itu saya tidak sekolah, keluar sekolah dan mengganggur. Karena saya beranggapan bahwa mereka Jahat, Maklum namanya juga Masih SD, belum ada pikiran Dewasa.

"Setelah berapa tahun kemudian saya Masuk lagi sekolah, Ketika Guru tes Saya, Saya sudah bisa membaca dan Menulis. tidak tau, waktu itu tidak ada orang yang mengajar saya tapi, atas anugerah Tuhan bisa Menghitung sehingga menyelesaikan studi di bangku SD dan saya beranjak ke SMP,”.

Jadi, Menurut saya setuju dengan Gambar diatas itu, Untuk Mau bangun Papua lebih cocok dengan pendekatan pendidikan dan kasih sayang, bukan dengan militer. Hentikan Operasi Militer, Hentikan Kekerasan dan berikan kebebasan kepada Orang Papua.

"Saat itu, saya belum kenal Namanya Militer dan Kekerasan. Saat itu ada di benak pikiran Saya Orang Indonesia itu semuanya baik. Kami panggil Guru orang Toraja, Manado dan Jawa dengan Bapa Guru, tuan, dan Pa Guru, Bapa, Orang tua.  Kami tidak pernah panggil orang Pendatang atau Manado, Toraja dan Jawa. Kami tahu dia atau mereka adalah Bapa kami, Demikian pula pandangan Masyarakat kami di kampung panggil juga demikian. karena mereka datang untuk memanusiakan dan mendidik kami orang Papua,".

Namun, Semuanya sudah beruapa total, Karena Guru-guru ditarik oleh Pusat, setelah Wamena berdarah 6 Oktober tahun 2000. Walaupun demikian, mereka yang saat itu ada di Kampung, Masyarakat tidak pernah membunuh guru-guru non Papua yang saat iu tugas disana daerah pedalaman Papua.

Orang tua mereka punya lawan adalah bukan mereka. Karena orang tua panggil para Guru adalah Bapa atau orang Tua orang Papua. Guru-guru di kampung disana, mereka dihargai betul. Mereka tidak pernah  menyakiti Masyarakat Papua dan sebaliknya orang Papua tidak menyakiti Guru non Papua,  bunuh mereka dan lain sebagainya.

"Namun, saya baru kenal kalau beranjak masuk SMP tahun 2007, baru Negara Indonesia ada aparat Negara, aparat negara yang Keras dan tegas, jahat.

Saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri ketika orang Papua ditangkap, dipukul dan keluarkan tembakan di depan saya serta lainnya. Dari situ saya kembali takut. Dulunya ada di pikiran saya bahwa orang Orang Non Papua itu baik, mulai berupa, yaitu takut mendekati. Apalagi orang yang Berpakaian Loreng (tentara) dan Cokelat (polisi) serta bersenjata,".

Ketika saya ke kampung, Guru-guru yang dulu ada itu sudah tidak ada disana. Saya tanya ke orang tua dikampung, kata orang tua mereka, Bapa-bapa (Guru) kami sudah pulang.

"Mereka pulang tinggalkan Papua mungkin karena apa saya tidak tahu," .

saran Saya

Mau Bangun Papua harus pendekatan Guru-Guru atau Pendidikan. Kirim Guru-guru pelayanan di pedalaman Papua. Jangan Kirim aparat, karena kirim aparat itu, Masalah di Papua selalu ada karena tindakan aparat yang sudah dulu dan sekarang lakukan, brutal ini, Masyarakat masih trauma. Ada di Benak orang Papua, aparat itu semua Jahat.

"Pendekatan Gurulah yang cocok, untuk bangun Papua, tapi pendekatan militer masalah tetap ada".

Pendekatan guru disini, dimaksud adalah,Kirim orang yang benar-benar guru. Bukan aparat menyamar jadi Guru, Masyarakat sudah cerdas sekarang jadi bisa menjadi konflik seperti di Nduga.

"Negara Sudah lakukan ini, maka saya percaya negara pasti aman dan akan bangun Papua serta Papua bisa damai bersama NKRI. Namun, Jika, masih ada pendekatan militer ya! Indonesia bisa kehilangan Papua dari Negara Indonesia, Seperti Timor Leste,".

"Terima kasih, Selamat Natal 25 Desember 2018 dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 2019".(*)







Share this article :

Terima kasih atas kunjungan anda, Please Comment with Facebook #By PL

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Translate

Pengunjung

Please Subscribers Channel Youtube

My Channel Youtube

Postingan Populer

 
Support : Creating Website | Pilok | Psmnews Template
Proudly powered by psmnews.org
Copyright © 2011. Psm News West Papua Indonesia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Owen Template